Rabu, 04 Mei 2011

uang lingkup pembangunan

1.Ruang Lingkup Pembangunan
Pada awal pemikiran tentang pembangunan sering ditemukan adanya pemikiran yang mengidentikan pembangunan dengan perkembangan, pembangunan dengan modernisasi dan industrialisasi, bahkan pembangunan dengan westernisasi. Seluruh pemikiran ter­sebut didasarkan pada aspek perubahan, di mana pembangunan, perkembangan, dan modernisasi serta industrialisasi, secara kese­luruhan mengandung unsur perubahan. Namun begitu, keempat hal tersebut mempunyai perbedaan yang cukup prinsipil, karena masing-masing mempunyai latar belakang, azas dan hakikat yang berbeda serta prinsip kontinuitas yang berbeda pula, meskipun semuanya merupakan bentuk yang merefleksikan perubahan (Riyadi dan Deddy Supriyadi Bratakusumah, 2005).
Pembangunan (development) adalah proses perubahan yang mencakup seluruh system sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya (Alexander 1994). Portes (1976) mendefenisiskan pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya. Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Menurut Deddy T. Tikson (2005) bahwa pembangunan nasional dapat pula diartikan sebagai transformasi ekonomi, sosial dan budaya secara sengaja melalui kebijakan dan strategi menuju arah yang diinginkan. Transformasi dalam struktur ekonomi, misalnya, dapat dilihat melalui peningkatan atau pertumbuhan produksi yang cepat di sektor industri dan jasa, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan nasional semakin besar. Sebaliknya, kontribusi sektor pertanian akan menjadi semakin kecil dan berbanding terbalik dengan pertumbuhan industrialisasi dan modernisasi ekonomi. Transformasi sosial dapat dilihat melalui pendistribusian kemakmuran melalui pemerataan memperoleh akses terhadap sumber daya sosial-ekonomi, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, air bersih,fasilitas rekreasi, dan partisipasi dalam proses pembuatan keputusan politik. Sedangkan transformasi budaya sering dikaitkan,  antara lain, dengan bangkitnya semangat kebangsaan dan nasionalisme, disamping adanya perubahan nilai dan norma yang dianut masyarakat, seperti perubahan dan spiritualisme ke materialisme/sekularisme. Pergeseran dari penilaian yang tinggi kepada penguasaan materi, dari kelembagaan tradisional menjadi organisasi modern dan rasional.
Dengan demikian, proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi, sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro (nasional) dan mikro (commuinity/group). Makna penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.
2. Pembangunan Ekonomi Indonesia dan Utang Luar Negeri
Indonesia sebagai negara yang sedang membangun, ingin mencoba untuk dapat membangun bangsa dan negaranya sendiri tanpa memperdulikan bantuan dari negara lain. Tentu ini pernah dicoba. Namun ternyata Indonesia sulit untuk terus bertahan ditengah derasnya laju globalisasi yang terus berkembang dengan cepat tanpa mau menghiraukan bangsa yang lain yang masih membangun. Dalam kondisi seperti ini, Indonesia akhirnya terpaksa mengikuti arus tersebut, mencoba untuk membuka diri dengan berhubungan lebih akrab dengan bangsa lain demi menunjang pembangunan bangsanya terutama dari sendi ekonomi nasionalnya.
Menurut Boediono (1999:22), pertumbuhan ekonomi merupakan tingkat pertambahan dari pendapatan nasional. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi merupakan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dan merupakan ukuran keberhasilan pembangunan.
Indonesia sebenarnya pernah memiliki suatu kondisi perekonomian yang cukup menjanjikan pada awal dekade 1980-an sampai pertengahan dekade 1990-an. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak tahun 1986 sampai tahun 1989 terus mengalami peningkatan, yakni masing-masing 5,9% di tahun 1986, kemudian 6,9% di tahun 1988 dan menjadi 7,5% di tahun 1989. Namun pada tahun 1990 dan 1991 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencatat angka yang sama yakni sebesar 7,0%, kemudian tahun 1992, 1993, 1994, 1995, dan 1996, masing-masing tingkat pertumbuhan ekonominya adalah sebesar 6,2%, 5,8%, 7,2%, 6,8%, dan 5,8%. Angka inflasi yang stabil, jumlah pengangguran yang cukup rendah seiring dengan kondusifnya iklim investasi yang ditandai dengan kesempatan kerja yang terus meningkat, angka kemiskinan yang cukup berhasil ditekan, dan sebagainya. Namun, pada satu titik tertentu, perekonomian Indonesia akhirnya runtuh oleh terjangan krisis ekonomi yang melanda secara global di seluruh dunia. Ini ditandai dengan tingginya angka inflasi, nilai kurs Rupiah yang terus melemah, tingginya angka pengangguran seiring dengan kecilnya kesempatan kerja, dan ditambah lagi dengan semakin membesarnya jumlah utang luar negeri Indonesia akibat kurs Rupiah yang semakin melemah karena utang luar negeri Indonesia semuanya dalam bentuk US Dollar.
Adanya kerapuhan Indonesia tersebut disebabkan dengan tidak adanya dukungan mikro ekonomi yang kuat. Permasalahan yang masih tidak dapat diselesaikan sampai saat ini adalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang terlalu tinggi di Indonesia, sumber daya manusia Indonesia kurang kompetitif, jiwa entrepreneurship yang kurang, dan sebagainya (Anggito Abimanyu. 2000:8).
Meningkatnya pertumbuhan investasi di Indonesia dimulai dengan ditetapkannya Undang-Undang No.1 / tahun 1967 tentang penanaman modal asing (PMA) dan Undang-Undang No.6 / tahun 1968 tentang penanaman modal dalam negeri (PMDN). Dengan diberlakukannya Undang-undang tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan investasi di Indonesia dari waktu ke waktu yang kemudian menciptakan iklim investasi yang kondusif selama proses pembangunan di Indonesia.
Arus masuk modal asing (capital inflows) juga berperan dalam menutup gap devisa yang ditimbulkan oleh defisit pada transaksi berjalan. Selain itu, masuknya modal asing juga mampu menggerakkan kegiatan ekonomi yang lesu akibat kurangnya modal (saving investment gap) bagi pelaksanaan pembangunan ekonomi. Modal asing ini selain sebagai perpindahan modal juga dapat memberikan kontribusi positif melalui aliran industrialisasi dan modernisasi. Akan tetapi apabila modal asing tersebut tidak dikalola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif yang besar terutama apabila terjadinya capital flows reversal (Zulkarnaen Djamin, 1996: 26).
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa utang luar negeri turut mendukung terjadinya krisis ekonomi di Indonesia pada pertengahan tahun 1997. Pada dasarnya, dalam proses pelaksanaan pembangunan ekonomi di negara berkembang seperti di Indonesia, akumulasi utang luar negeri merupakan suatu gejala umum yang wajar. Hal tersebut disebabkan tabungan dalam negeri yang rendah tidak memungkinkan dilakukannya investasi yang memadai sehingga banyak pemerintah negara yang sedang berkembang harus menarik dana dan pinjaman dari luar negeri. Selain itu, defisit pada neraca perdagangan barang dan jasa yang tinggi berhubungan juga dengan dilakukannya impor modal untuk menambah sumber daya keuangan dalam negeri yang terbatas.
Bagi negara berkembang termasuk Indonesia, pesatnya aliran modal merupakan kesempatan yang bagus guna memperoleh pembiayaan pembangunan ekonomi. Dimana pembangunan ekonomi yang sedang dijalankan oleh pemerintah Indonesia merupakan suatu usaha berkelanjutan yang diharapkan dapat mewujudkan masyarakat adil dan makmur sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945, sehingga untuk dapat mencapai tujuan itu maka pembangunan nasional dipusatkan pada pertumbuhan ekonomi. Namun karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki (tercermin pada tabungan nasional yang masih sedikit) sedangkan kebutuhan dana untuk pembangunaan ekonomi sangat besar. Maka cara untuk mencapai pertumbuhan ekonomi itu adalah dengan berusaha meningkatkan investasi.
Pada pertengahan dekade 1980-an, modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi oleh investasi langsung atau penanaman modal asing (PMA) dan pinjaman luar negeri (terutama pinjaman pemerintah). Baru setelah pemerintah melakukan deregulasi di sektor keuangan/perbankan yang dimulai sejak awal 1980-an, yang antara lain membuat sektor tersebut, termasuk pasar modal, berkembang dengan pesat, arus modal swasta jangka pendek dari luar negeri mulai mengalir ke dalam negeri. Penanaman Modal Asing (PMA) sendiri, berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sampai akhir Juli 2006 meningkat menjadi US$ 3.713.4 juta dengan realisasi proyek yang telah disetujui pemerintah sebanyak 563 proyek.
Berdasarkan uraian tersebut di atas tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai komponen dalam neraca pembayaran turut mempengaruhi keadaan perekonomian di suatu negara. Negara-negara yang umumnya merupakan negara yang sedang berkembang masih terus berusaha untuk menyempurnakan ekonomi internasionalnya (Hady Hamdy, 2001: 42).
Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan diatas, Penulis mencoba untuk membahas masalah pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam hubungannya dengan utang luar negeri (foreign debt) dan penanaman modal asing (PMA) dengan mengangkat judul “Analisis Pengaruh Utang Luar Negeri (Foreign Debt) dan Penanaman Modal Asing (PMA) terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”.
Pembangunan ekonomi merupakan prasyarat mutlak bagi negar-anegara dunia ketiga, termasuk Indonesia, untuk memperkecil jarak ketertinggalannya di bidang ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dari negara-negara industri maju. Upaya pembangunan ekonomi di negara-negara tersebut, yang umumnya diprakarsai pemerintah, agak terkendala akibat kurang tersedianya sumber-sumber daya ekonomi yang produktif, terutama sumberdaya modal yang seringkali berperan sebagai katalisator pembangunan. Untuk mencukupi kekurangan sumberdaya modal ini, maka pemerintah negara yang bersangkutan berusaha untuk mendatangkan sumberdaya modal dari luar negeri melalui berbagai jenis pinjaman.
Beberapa penyebabnya antara lain:
a. Pendapatan per kapita penduduk yang umumnya relatif rendah, menyebabkan tingkat MPS (marginal propensity to save) rendah, dan pendapatan pemerintah dari sektor pajak, khususnya penghasilan, juga rendah.
b. Lemahnya sektor perbankan nasional menyebabkan dana masyarakat, yang memang terbatas itu, tidak dapat didayagunakan secara produktif dan efisien untuk menunjang pengembangan usaha yang produktif.
c. Kurang berkembangnya pasar modal, menyebabkan tingkat kapitalisasi pasar yang rendah, sehingga banyak perusahaan yang kesulitan mendapatkan tambahan dana murah dalam berekspansi.
Sumberdaya modal yang didatangkan dari luar negeri, yang umumnya dari negara-negara industri maju, ini wujudnya bisa beragam, seperti penanaman modal asing (direct invesment), berbagai bentuk investasi portofolio (portfolio invesment) dan pinjaman luar negeri. Dan, tidak semuanya diberikan sebagai bantuan yang sifatnya cuma-cuma (gratis), tetapi dengan berbagai konsekuensi baik yang bersifat komersial maupun politis.
Pada satu sisi, datangnya modal dari luar negeri tersebut dapat digunakan untuk mendukung program pembangunan nasional pemerintah, sehingga target pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat meningkat. Tetapi pada sisi lain, diterimanya modal asing tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah dalam jangka panjang, baik ekonomi maupun politik, bahkan pada beberapa negara-negara yang sedang berkembang menjadi beban yang seolah-olah tak terlepaskan, yang justru menyebabkan berkurangnya tingkat kesejahteraan
rakyatnya.
3. Perkembangan Utang Luar Negeri Indonesia
Menurut Buku Saku Perkembangan Utang Negara Edisi Oktober 2010, jumlah seluruh utang pemerintah mencapai US$ 185,3 milyar. Bila dirupiahkan dengan kurs Rp 9000/ US dollar, maka utang negara kita mencapai Rp 1.667,70 trilyun. Jika dibagi jumlah penduduk Indonesia 237,556  juta jiwa berdasarkan hasil sensus penduduk 2010, maka setiap penduduk Indonesia memikul utang negara sebesar Rp 7 juta.
Dalam sepuluh tahun terakhir, utang pemerintah berkembang pesat dari US$122,42 milyar pada tahun 2001 menjadi US$185,3 milyar pada tahun 2010. Selama periode tersebut utang negara bertambah US$ 61,88 milyar atau setara Rp 556,92 trilyun.
Dengan demikian selama sepuluh tahun terakhir pemerintahan 3 rezim; Gusdur, Megawati, dan SBY, negara tidak memiliki kemampuan mengurangi ketergantungan terhadap utang apalagi menghilangkannya. Justru utang negara meningkat 50,56% atau hampir setengah dari jumlah utang tahun 2001.
Pemerintahan SBY yang sudah memasuki dua periode jabatan, memiliki andil besar dalam menggelembengkuan utang negara. Sejak tahun 2004 hingga 2010, utang negara bertambah US$45,42 milyar dollar atau sekitar Rp 408,78 trilyun. Jadi dari 50,56% peningkatan utang negara sejak 2001, pemerintahan SBY menyumbangkan peningkatan utang sebesar 37,10%. Jika dihitung sejak tahun 1970 dengan jumlah utang pemerintah pada saat itu mencapai US$2,77 milyar, maka utang negara selama 40 tahun terakhir bertambah sebesar 6.589,53%.
Utang pemerintah tersebut terdiri atas utang luar negeri dan utang dalam negeri. Utang dalam negeri merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut pinjaman pemerintah dalam bentuk surat utang atau obligasi.
Perkembangan utang pemerintah terutama sejak masuknya IMF pada era reformasi meningkat drastis. Peningkatan tersebut didorong oleh biaya BLBI dan paket rekapitalisasi perbankan yang menelan biaya pokok Rp 650 trilyun. Biaya ini atas perintah IMF diaktuaisasikan pemerintah dalam bentuk Surat Utang Negara atau disebut juga obligasi rekap.

4. Dampak Utang Luar Negeri Terhadap Pembangunan Nasional
Setiap tindakan ekonomi pasti mengandung berbagai konsekuensi, begitu juga halnya dengan tindakan pemerintah dalam menarik pinjaman luar negeri. Dalam jangka pendek, pinjaman luar negeri dapat menutup defisit APBN, dan ini jauh lebih baik dibandingkan jika defisit APBN tersebut harus ditutup dengan pencetakan uang baru, sehingga memungkinkan pemerintah untuk melaksanakan pembangunan dengan dukungan modal yang relatif lebih besar, tanpa disertai efek peningkatan tingkat harga umum (inflationary effect) yang tinggi. Dengan demikian pemerintah dapat melakukan ekspansi fiskal untuk mempertinggi laju pertumbuhan ekonomi nasional. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi berarti meningkatnya pendapatan nasional, yang selanjutnya memungkinkan untuk meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat, apabila jumlah penduduk tidak meningkat lebih tinggi. Dengan meningkatnya perdapatan per kapita berarti meningkatnya kemakmuran masyarakat. Dalam jangka panjang, ternyata utang luar negeri dapat menimbulkan permasalahan ekonomi pada banyak negara debitur. Di samping beban ekonomi yang harus diterima rakyat pada saat pembayaran kembali, juga beban psikologis politis yang harus diterima oleh negara debitur akibat ketergantungannya dengan bantuan asing.
Kebaikan Utang Luar Negeri :
a.       Percepatan laju pembangunan
Berkat utang luar negeri proyek-proyek seperti Infrastruktur misalnya, dapat diwujudkan dan dengan demikian akan meningkatkan kegiatan perekonomian negara dan akhirnya percepatan laju pembangunan akan meningkat
b.      Meningkatkan kemakmuran rakyat
Berkat pembangunan yang cepat maka secara otomatis akan meningkatkan kemakmuran masyarakat
c.       Meningkatkan kesempatan kerja
Dengan banyaknya proyek-proyek maka akan menyerap tenaga kerja.
Keburukan Utang Luar Negeri :
a.       Bunga dan cicilan utang harus dibayar pada saat jatuh tempo
Bunga dan cicilan ini sering memberatkan bagi Negara yang sedang membangun seperti Indonesia. Pada saat Indonesia diterpa badai krisis ekonomi tahun 1997, menurun tajamnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mengakibatkan pokok utang dan bunga utang luar negeri menjadi meningkat.
b.      “mengurangi kebebasan” negara debitor
Negara kreditor sering memberikan persyaratan-persyaratan demi kepentingan pemberi kredit. Biasanya, utang luar negeri dari suatu negara menuntut adanya komitmen negara penerima pinjaman untuk memberikan prioritas pada kepentingan ekonomi maupun politik  Negara kreditor di negara peminjam.
5. Kesimpulan
Utang luar negeri memberikan dampak positif seperti percepatan laju pembangunan, meningkatkan kemakmuran rakyat, dan meningkatkan kesempatan kerja. Namun disisi lain utang luar negeri juga memberikan dampak negatif seperti bunga cicilan utang harus dibayar pada saat jatuh tempo dan mengurangi kebebasan negara debitur.
Dengan adanya utang luar negeri pemerintah dapat dengan lebih mudah melakukan pembangunan di berbagai sektor baik fisik maupun non fisik, namun menurut Susan George (1992), utang luar negeri secara pragmatis justru menjadi bomerang bagi negara penerima (debitur). Perekonomian di negara-negara penerima utang tidak menjadi semakin baik, melainkan bisa semakin hancur.
Referensi :
Surya Atmadja, Adwin,.Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia : Perkembangan dan Dampaknya.
http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/03/19/pengertian-pembangunan/

Minggu, 27 Maret 2011

perekonomian Banten

Kelompok 15
 “BANTEN”
1EB15

            Banten merupakan provinsi terpenting di Indonesia, karena wilayah laut Banten sangat berpotensi sebagai jalur laut, selat sunda merupakan salah satu jalur lalu lintas yang paling strategis karena dilalui oleh kapal-kapal besar yang menghubungkan Australia, Selandia Baru dan kawasan Asia Tenggara. Selian itu Banten merupakan penghubung antara Sumatera dan jawa.

a. Sejarah Perekonomian provinsi Banten

            Secara ekonomi wilayah Banten memiliki banyak Industri, selain itu Banten mempunyai pelabuhan dapat menghubungkan antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa selain itu dapat mengubungkan ke mancanegara seperti Australia, Selandia Baru, dan kawasan Asia Tenggara. Dilihat dari geografisnya, kota Tangerang dan kabupaten Tangerang merupakan penyangga ibu kota Jakarta.
            Perekonomian di Banten setahun demi setahun selalu mengalami peningkatan. Bisa dilihat dari kinerja perekonomian Banten pada Triwulan IV 2010 terus meningkat tercermin dari meningkatnya kinerja komponen permintaan dan sektoral secara simultan hingga mengalami akselerasi pada level 6,31% (yoy). Masih berlanjutnya pemulihan ekonomi dunia terutama emerging countries dan perekonomian nasional hingga akhir tahun 2010, meningkatnya permintaan domestik dan membaiknya ekspektasi masyarakat terhadap perekonomian baik konsumen maupun pelaku usaha diperkirakan berpengaruh cukup signifikan terhadap peningkatan kinerja sisi permintaan maupun kinerja sektoral.
Tekanan Inflasi Banten pada Triwulan IV 2010 meningkat dengan level inflasi Banten sebesar 6,10% (yoy) yang dipengaruhi terutama oleh komponen volatile foods. Berdasarkan hasil disagregasi inflasi, tekanan inflasi dari kelompok volatile foods khususnya padi-padian dan bumbu-bumbuan masih berlanjut pada Triwulan IV 2010. Gangguan cuaca yang berkepanjangan yang menghambat jumlah pasokan bahan makanan diperkirakan mendorong kontribusi inflasi volatile foods secara signifikan. Tekanan dari komponen administered prices juga terindikasi meningkat, sedangkan tekanan dari kelompok inti maupun administered prices masih cenderung stabil.
Setelah bertumbuh cukup tinggi pada Triwulan IV 2010 sebesar 6,31% (yoy), perekonomian Banten diperkirakan tetap bertumbuh tinggi namun cenderung sedikit melambat pada triwulan mendatang dengan kisaran angka sebesar 6,05% - 6,10% (yoy). Sektor-sektor utama seperti sektor industri pengolahan diperkirakan belum meningkat secara signifikan seiring dengan siklus bisnis yang umumnya cenderung slow down pada awal tahun, begitu pula dengan kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran. Selain itu, adanya gejolak politik di wilayah Timur Tengah diperkirakan cukup memberikan tekanan terhadap kinerja perdagangan internasional khususnya terkait dengan kinerja ekspor dan impor sektor industri pada triwulan mendatang.
Sejalan dengan membaiknya perekonomian, tekanan terhadap inflasi Banten pada Triwulan I 2011 pun diproyeksikan meningkat, ditambah dengan adanya gejolak harga pangan dan faktor eksternal. Inflasi Banten triwulan mendatang diperkirakan tetap pada level relatif tinggi dan diperkirakan berada pada kisaran 6,80% (yoy) lebih tinggi daripada Triwulan IV 2010 sebesar 6,10% (yoy). Membaiknya ekspektasi masyarakat terhadap kondisi perekonomian maupun kondisi penghasilan secara umum pada tahun 2011 diperkirakan memberikan dampak peningkatan permintaan dan kemudian meningkatkan potensi peningkatan harga/inflasi dari sisi permintaan. Di sisi lain, terganggunya pasokan/supply bahan pangan yang diperkirakan terus terjadi hingga Triwulan I 2011 akibat kondisi alam yang kurang menguntungkan dan ditambah dengan kenaikan harga barang impor (imported inflation) juga dapat memberikan tekanan yang cukup besar terhadap kondisi inflasi periode mendatang.

b. Pendapatan Asli Daerah Provinsi Banten
            Setiap masing-masing provinsi di Indonesia memiliki pendapatan asli dari daerahnya. Termasuk juga dengan provinsi banten bisa dilihat dari kurung waktu antara 2002-2005 pendapatan-pendapatan yang masuk  Secara keseluruhan, realisasi pendapatan daerah Provinsi Banten dalam kurun waktu 2002-2005 semakin menunjukkan penguatan kapasitas, dimana realisasi sebesar Rp. 915,65 Milyar pada tahun 2002 telah berhasil ditingkatkan menjadi Rp. 1.784,94 Milyar hingga tahun 2006. Penguatan kapasitas tersebut ditandai dengan rata-rata pencapaian target 104,73% per tahun serta dengan rata-rata laju pertumbuhan 16,23% per tahun. Berdasarkan Perda No. 2 Tahun 2006, target pendapatan daerah pada tahun 2006 adalah sebesar Rp. 1.784,94 Milyar, dengan demikian laju pertumbuhan yang diharapkan terhadap realisasi 2005 adalah 11,67%2).

Penguatan kapasitas pendapatan daerah terutama ditopang oleh peningkatan kinerja dan peran Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam struktur pendapatan daerah, dimana dari Rp. 439,38 Milyar atau 47,99% terhadap total pendapatan daerah (2002) telah dapat ditingkatkan menjadi Rp. 1.070,23 Milyar atau 66,59% (2005), atau dengan laju pertumbuhan rata-rata 34,63% per tahun. Di samping itu, Dana Perimbangan juga masih memberikan peran besar terhadap struktur pendapatan daerah, meskipun dari tahun ke tahun nilainya mengalami peningkatan dengan kecenderungan stagnan (laju rata-rata 8,80% per tahun)2).

Secara keseluruhan, PAD masih berpeluang untuk ditingkatkan, dengan menindaklanjuti berbagai peluang atau kendala yang belum dapat diupayakan selama periode 2002-2005, antara lain: penerapan Pajak Kendaraan di Atas Air (PKAA) dan Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air (BBNKAA), belum optimalnya kinerja dan peran pos Retribusi Daerah (rata-rata kontribusi per tahun baru mencapai 0,29%) terhadap PAD maupun pendapatan daerah, serta masih lambannya upaya ekstensifikasi pendapatan daerah melalui pembentukan badan usaha milik daerah.

Pada sisi belanja daerah selama kurun waktu 2002-2006 menunjukkan perkembangan kapasitas pembiayaan pembangunan yang semakin memadai, dimana jumlah dan proporsi belanja pembangunan (belanja publik) dalam struktur belanja daerah mengalami peningkatan. Alokasi belanja daerah yang terealisasi sebesar Rp. 955 Milyar (2002) telah dapat ditingkatkan menjadi Rp. 1.091,81 Milyar pada tahun 2004, selanjutnya pada tahun 2005 dan 2006  ditargetkan masing-masing sebesar Rp. 1.618,99 Milyar dan Rp. 2.043,52 Milyar3). Berdasarkan realisasi belanja daerah 2002-2004 serta target tahun 2005-2006, rata-rata proporsi alokasi belanja pembangunan (terdiri dari belanja publik, belanja bagi hasil dan bantuan keuangan, serta belanja tak disangka) adalah sebesar 68,96% per tahun, dimana proporsi alokasi pada tahun 2006 ditargetkan sebesar 79,59% atau Rp. 1.626,43 Milyar3). Sedangkan permasalahan pokok dalam penerapan belanja daerah selama kurun waktu 2002-2005 adalah belum efisiennya prioritas alokasi belanja daerah secara proporsional, serta masih terbatasnya kemampuan pengelolaannya termasuk dalam melaksanakan prinsip transparansi dan akuntabilitas, serta profesionalisme.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2005 mayoritas berasal dari sektor industri pengolahan (49,75%), diikuti sektor perdagangan, hotel dan restoran (17,13%), pengangkutan dan komunikasi (8,58%) dan pertanian yang hanya 8,53%. Namun berdasarkan jumlah penyerapan tenaga kerja, industri menyerap 23,11% tenaga kerja, diikuti oleh pertanian (21,14%), perdagangan (20,84%) dan transportasi/komunikasi yang hanya 9,50%.
Selain itu pendapatan asli yang diterima Banten bersumber kepada,

c. Hambatan Pembangunan Provinsi Banten
            Setiap provinsi di Indonesia dalam pembangunannya selalu menghadapi rintangan/hambatan. Termasuk juga dengan provinsi Banten, dalam pembangunan ekonomi daerah Banten sangat lemah.

            Kelemahan tersebut antara lain kurangnya koordinasi dan harmonisasi perencanaan serta operasional pembangunan antar kota/kabupaten satu dengan yang lainnya. Bahkan pemkab/kota dengan pemprov juga disharmonisasi, sehingga masalah tersebut memperlambat pertumbuhan ekonomi di Banten.

            Menurut Dahnil, hambatan pembangunan di Banten juga terjadi karena adanya perbedaan pandangan antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota seperti dalam rencana bantuan pemerintah provinsi untuk kabupaten/kota (fresh money) dalam APBD 2010 Banten yang kemungkinan mengalamai penurunan dibanding tahun sebelumnya.
            Selain itu, hambatan lain yang terjadi bagi pengembangan pembangunan khususnya perekonomian di Provinsi Banten adalah, pemprov tidak konsisten melaksanakan berbagai rencana pembangunan yang sudah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
            Di Banten misalnya, dalam RPJMD sudah dituangkan mengenai pembagian wilayah di Banten untuk pengembangan sektor perekonomian dan pembangunan di daerah tersebut, misalnya wilayah Banten Selatan yang meliputi Kabupaten Pandeglang dan Lebak yang akan dikembangkan untuk sektor agro industri seperti pertanian, perkebunan dan peternakan, namun pada kenyataannya belum berjalan dengan baik.
            Pemerintah harus segera mencegah penghambat tersebut, karena apabila pemerintah kurang cepat dalam bersikap kemungkinan pembangunan di Banten akan stagman atau akan mengalami kemunduran.
            Menurut Pengamat ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Dahnil Anzar mengatakan, pemerintah Provinsi Banten bisa menduplikasi "National Summit" untuk harmonisasi perencanaan pembangunan ekonomi di Banten. Ia mengatakan, national summit adalah langkah positif untuk memulai perencanaan pembangunan Indonesia lima tahun kedepan, karena melibatkan koordinasi pembangunan semua steakholder lintas sektoral. Sebab selama ini pembangunan ekonomi sangat parsial dan sektoral.

            Hambatan pembangunan yang terjadi di banten sangat kompleks, terlihat dari masalah yang terjadi hubungan semua elemen didalamnya juga saling berpengaruh antara kota, kabupaten maupun pemkot setempat. Tapi, setiap permasalahan mempunyai jalan keluarnya. Yang sudah dikutip diatas bahwa Banten dapat menduplikat “National Summit” agar tidak ada lagi penghambat pembangunan di Banten.


d. Produk Unggulan Provinsi Banten

            Produk unggulan di Banten merupakan produk asli yang dikerjakan dan dihasilkan di Banten. Salah satu produk unggulan tersebut adalah “GERABAH” produk home industry ini merupakan produk berupa gentong dan perlengkapan dapur tradisional. Produk ini merupakan produk unggulan khas dari provinsi Banten.
            Dan merupakan hasil kerajinan warga Kampung Bumi Jaya, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang ini sudah tergolong barang ekspor andalan.  Menurut sejumlah perajin di Ciruas mengatakan, hasil kerajinan gerabah ini sudah turun-temurun sejak kakek mereka, dan jika diurut-urut kemungkinan besar sudah ada sejak zaman Keslutanan Banten abad ke-17.
            Produk unggulan di Banten salah satunya gerabah, dapat memberikan sumbangan untuk PAD(Pendapatan Asli Daerah) bisa dilihat pada tahun 2005 sektor industri dapat menyumbangkan (49,75%) untuk sector pengolahan industri saja.
           
e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pembangunan

Pembangunan ekonomi bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional riil dan produktivitas. Factor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan ekonomi antara lain :
1. Modal (capital)
2. Tenaga kerja yang tersedia
3. Kekayaan alam (sumber daya alam ) riil
4. Teknologi dan wirausaha
5. Karakteristik social budaya masyarakat
6. Luasnya pasar
7. System perekonomian yang digunakan.
Factor modal dan tenaga kerja merupakan input yang langsung mempengaruhi besarnya output. Sedangkan kelima factor terakhir merupakan input yang secara tidak langsung mempengaruhi besarnya output melalui pengaruhnya terhadap modal dan tenaga kerja

f. Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Banten
Ratu Atut Chosiyah
GUBERNUR BANTEN

Ratu Atut Chosiyah

(lahir di Ciomas Serang, Banten, 16 Mei 1962; umur 48 tahun)





WAKIL GUBERNUR BANTEN


Mohammad Masduki

(lahir di Tangerang, Banten, 07 Juli 1944; umur 66 tahun)

Sabtu, 26 Februari 2011

mikro ekonomi struktur industri

13.4        MIKRO EKONOMI STRUKTUR INDUSTRI
                                Keluaran atau output yangdihasilkan oleh sebuah perusahaan di sector industry tidak hanya berupa barang hasil produksinya. Beberapa jenis industry tertentu menghasilkan pula tenaga listrik yang kelebihannya kemudian dijual, beroleh penghasilan dari jasa industry yang diberikan kepada pihak lain, serta penerimaan dari jasa lain yang sifatnya nonindustri.
13.4.1 Keluaran, Masukan, dan Nilai Tambah
Nilai keluaran (output value) industry kerajian/rumah tangga pada tahun 1993 rata-rata sebesar Rp.2,62 juta per unit usaha. Dengan nlai masukan (input value atau input cost) Rp1,61 juta,maka tiap unit usaha indusrti rumah tangga pada tahun tersebut rata-rata menghasilkan nilai tambah (value added) sebesar Rp1,01 juta. Angka-angka ini jelas kecil bila dibandingkan dengan angka untuk perusahaan-perusaan indusrti yang berskala diatasnya. Nlai tambah yang disumbangkan oleh perusaan kecil pada tahun yang sama rata-rata Rp12,08 juta per perusahaan,hamper 12 kali lipat dibandingkan nilai tambah per unit usaha kerajinan. Sedangkan nilai tambah perusahaan-perusahaan besar/sedang jauh lebih basar lagi, rata –rata Rp2,81 miliar per perusahaan; dengan perkataan lain, 232 kali nilai tambah perusahaan-perusaan kecil, atau 2782 kali nilai tambah industry rumah tangga.
Jadi dapat disimpulan kalah efisiennya industry yang berskala lebih besar dalam menciptakan nilai tambahmungkin tidak sepenuhnya karena efisiensi produksinya lebih rendah. Boleh jadi hal itu disebabkan karena lebih besarnya biaya-biaya nonproduksi ayng harus dikeluarkan oleh perusahaan berskala lebih besar.
13.4.2 Struktur Biaya
Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusaan di sector pengolahan dapat dirincikan atas biaya bahn baku; biaya bahan lain; biaya sewa capital; dan biaya jasa-jasa.
Antar nilai keluaran dan biaya total merupakan keuntungan kotor atau profit bruto. Secara garis besar, struktur biaya suatu industry dapat dirumuskan sebagai berikut:
Biaya masukan = biaya bahan baku + biayabahan lain + biaya sewa capital + biaya jasa-jasa
Biaya tenaga kerja = gaji + upah + tunjangan + bonus
Biaya total = biaya masukan + biaya tenaga kerja
Nilai tambah = nilai keluaran – biaya masukan
Profit bruto = nilai keluaran – biaya total
Nilai tambah dan profit bruto dapat pula dirumuskan sebagai:
Nilai tambah = biaya tenaga kerja + profit brotu
Profit brotu = nilai tambah – biaya tenaga kerja
13.4.3 Upah dan Produkivitas Pekerja
Upah yang diterima oleh setiap orang tenaga kerja di sector industry pada tahun 1993 rata-rata 3.131.000 setahun,atau sekitar Rp261.000 sebulan. Sedangkan pada tahun 1990 sebesar Rp1.739.000 setahun, atau sekitar RP145.000 per bulan. Denga kata lain, dalam tiga tahun upah di sector industry mengalami kenaikan nominal sebesar 80%. Kenaikan upa nominal sebesar itu jelas menaikan juga tingkat upah rill karena laju inflasi kumulatif selama tiga tahun yang sama tidak sampai setinggi itu. Dalam kurun yang sama, produksivitas tenaga kerja sector industry juga mengalami peningkatan; masing-masing dari Rp 26.615.000 menjadi Rp 39.277.000 jika dihitung terhadap nilai keluaran ( naik 48% ), dan dari Rp9.500.000 menjadi Rp14.632.000 ( naik 54% ) jika dihibung berdasarkan nilai tambah.
Tingkat upah tertinggi diterima oleh tenaga kerja industry logam dasar,yakni lebih dari Rp9 juta setahun pada tahun 1993. Di lain pihak, para pekerja industry perkayuan dan barang-barang dari kayu paling rendah tingkat upahnya, hanya Rp2,048 juta pada tahun 1993. Kendati nlai mutlaknya meningkat dibandingkan pada tahun 1990 (Rp1,612 juta), namun secara relative perkembangan tingkat uapah pekerja industry ini mengalami kemunduran. Upah terrandah pada tahun 1990 adalah industry tekstil, pakaian jadi dan kulit, ssemntara upah industry perkayuan berada urutan ke enam.
Pekerja industry logam dasar tidak saja menerima upah tertinggi dibandingkan rekan-rekan mereka yang berkerja di bidang indutri lainnya. Karena produtivitasnya juga tinggi, baik dihitung nilai keluaran maupun diukur nilai tambah, baik pada tahun 1990 maupun tahun 1993


 pengarang : Durmahiry

Minggu, 28 November 2010

strategi pemasaran

Strategi Pemasaran

Pendahuluan

Jasa adalah setiap tindakan atau kinerja yang ditawarkan oleh satu pihak ke pihak yang lain yang secara prinsip tidak berwujud dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan, produksi jasa dapat terikat atau tidak terikat pada suatu produk fisik. Jasa pada dasarnya adalah seluruh ativitas ekonomi dengan output selain produk dalam pengertian fisik, dikomsumsi dan diproduksi pada saat bersamaan , memberikan nilai tambah dan secara prinsip tidak berwujud bagi pembeli pertamanya. Berdasarkan beberapa definisi diatas maka jasa pada sasarnya adalah sesuatu yang mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
1. Tidak berwujud tetapi dapat memenuhi kebutuhan konsumen.
2. Proses produksi jasa dapat menggunakan atau tidak menggunakan bantuan
3. Suatu produk fisik
4. Jasa tidak mengakibatkan peralihan hak atau kepemilikan
5. Terdapat interaksi antara penyedia jasa dengan pengguna jasa.

Pembahasan

Jasa yang saya teliti adalah jasa dalam bidang servis hp dan mejual pulsa,konter riki cell tersebut berdirinya pada tahun 2009 nama pemiliknya adalah Riki dengan modal awalnya 10.000.000 .konter ini berada di jl.swadaya II no.1 rt.008 rw.008,Dimana awalnya konter servis hp tersebut hanya memiliki 1 pegawai dan berkembang pada tahun 2010 menjadi memiliki 4 pegawai.konter ini mempunyai system untuk mengatur pegawainya,Dimana 2 pegawai yang cuma melayani untuk membeli pulsa dan 2 lagi melayani servis hp yang rusak dan menambahkan softwarenya.Untuk servis hp biasanya konter ini member harga tergantung kerusakan yang ada di hp tersebut,biasanya dari 40.000 – 300.000 dan Gaji pegawainya adalah 1.000.000 perbulan per orang.

Isi

Konter ini memiliki kerja sama dengan distrubusi pulsa untuk mendapatkan harga yang lebih murah untuk mendapat untung yang lebih besar untuk menjualnya kembali.
Konter servis ini promosi untuk menarik konsumen dari awal berdiri sempai sekarang untuk menggunakan jasanya,dengan cara :
• Awalnya dengan cara dari mulut ke mulut.
• Lalu mengunakan orang terdekat untuk menawarkan servis dan orang yang dapat membawa konsumen mendapat bagian dari hasil servis tersebut.
• Dengan cara pelanggan untuk membawa teman atau orang yang ingin servis.

Pendapatan

Pendapata perbulan untuk menjual pulsa dan kartu perdana sekitar 15.000.000 dan untuk jasa servis hp sekitar 5.000.000 ditotal untuk keseluruhan 20.000.000,untuk laba bersih sendiri hanya sekitar 3.200.000 perbulan.

kesimpulan

konter hp ini selain menjual pulsa dan menjual hp,dia berdiri juga menawarkan jasa servis hp yang rusak.Dimana konter ini hanya promosikan jasanya dari mulut ke mulut dan dengan menggunakan orang terdekatnya memberi tahu tempat servis konter ini.

sumber : riki

Nama : Rama Febriyana
Kelas : 1EB15
NPM : 28210185